Home » Cinta » Pacaran » Pacaran Menurut Islam dan Dalilnya

Pacaran Menurut Islam dan Dalilnya

by Maya Tita Sari

Pacaran merupakan hal yang sudah tidak asing lagi di era modern ini. Istilah ini digunakan untuk menamai status hubungan cinta atau kedekatan antara seorang pria dan wanita, terutama bagi mereka yang masih berusia muda.  Ketika seorang pria atau wanita memiliki suatu perasaan tertentu (kasih dan sayang) terhadap lawan jenisnya, dan ternyata lawan jenis yang dimaksud memiliki perasaan yang sama, lalu dari sinilah lahir istilah yang dikenal dengan nama pacaran.

Nah, berikut adalah penjelasan pacaran menurut islam :

Lalu bagaimanakah sebenarnya agama islam menanggapi tentang fenomena tesebut?

Pada dasarnya sangatlah sulit bagi kita untuk mendefinisikan apa itu cinta. Ibu Qayyim pernah berkata “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin)

Bisa dikatakan bahwa cinta merupakan fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, dimana pada hakikatnya cinta merupakan suatu bentuk amalan hati yang dan terwujud dalam bentuk amalan lahiriah. Apabila cinta tersebut dibangun dengan apa yang di ridhoi oleh Allah SWT, maka cinta akan menjadi suatu bentuk ibadah. Akan tetapi jika cinta tersebut tidak dibangun dengan apa yang dirihoi Allah SWT, maka itu merupakan suatu bentuk kemaksiatan.

Allah SWT berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوني‏ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ

Artinya “Katakanlah: Jika memang kamu cinta kepada Allah, maka turutkanlah aku, niscaya cinta pula Allah kepada kamu dan akan diampuni Nya dosa-dosa kamu. Dan Al­lah adalah Maha pengampun lagi Penyayang.” (QS. Ali Imron ayat 31)

Rosulllah Sholallahu Alaihi wassalam perbnah bersabda “Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Firman Allah SWT dan Hadist Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam di atas bisa disimpulkan bahwa cinta yang paling utama adalah cinta manusia kepada Allah SWT dan Rasulnya. Dan apabila kita mencintai sesama manusia, maka hendaknya kita mencintai karena Allah, karena jika tidak berarti kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kufur. Akan tetapi banyak yang salah mendefinisikan cinta tersebut sebagaisebuah perasaan khusus (perasaan kasih dan sayang) yang dimiliki seorang pria kepada seorang wanita atau sebaliknya yang mereka wujudkan ke dalam suatu istilah yang disebut dengan pacaran, dimana dalam berpacaran insan yang sedang jatuh cinta tersebut melakukan hal-hal yang selayaknya orang berpacaran seperti berdua-duaan dan bergandengan tangan, bahkan terkadang melakukan perbuatan yang sudah selayaknya hubungan orang yang telah menikah. Sehingga bisa dikatakan bahwa kebanyakan dari orang berpacaran itu di dorong oleh nafsu seksual semata dan bukan karena Allah, bahkan terkadang perasaan cinta tersebut mampu mengalahkan perasaan cinta seseorang kepada Allah SWT dan juga rasulnya.

Allah SWT berfirman :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Artinya “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al- Baqarah ayat 165)

Jika seperti itu, apakah islam mengharamkan orang berpacaran?

Kebanyakan para ulama berpendapat jika pacaran boleh dilakukan setelah ada keresmian hubungan antara seorang pri dan wanita, yaitu melalui pernikahan. Jadi apabila pacaran dilakukan sebelum menikah, maka hukumnya adalah haram. Mengapa?

Karena banyak segi mudharat dari berpacaran sebelum menikah, sehingga itu bukanlah suatu jalan yang diridhoi Allah SWT.  Mereka yang berpacaran tentunya akan cenderung timbul keinginan untuk bertemu, duduk-duduk maupun pergi berduaan. Dan apabila hal itu dilakukan sebelum menikah (pasangan yang bukan muhrim) tentu saja akan mendatangkan dosa, karena itu adalah perbuatan yang mendekati perzinaan.

Allah SWT telah berfirman :

وَلاَ تَقْرَبُوا الِزنىَ إنَهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

Artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang)”. (QS. Al- Isra’ ayat 32)

Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam juga pernah bersabda “Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadist yang lain Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam juga pernah bersabda “Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR. Bukhari)

Lalu mengapa dikatakan bahwa pacaran adalah suatu perbuatan yang mendekati zina?

Ketika seorang laki-laki dan perempuan yang berpacaran sedang berdua-duaan, maka akan ada pihak ketiga yaitu syaitan yang akan berusaha menggoda mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang terlarang yang menjurus pada perzinaan.

“Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda “Apabila laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berdua-duaan, maka yang ketiga adalah setan.”

Dalam hadist lain, Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam juga bersabda “Awaslah kamu dari bersendirian dengan wanita, demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tiada seorang lelaki yang bersendirian (bersembunyian) dengan wanita malainkan dimasuki oleh setan antara keduanya. Dan, seorang yang berdesakkan dengan babi yang berlumuran lumpur yang basi lebih baik daripada bersentuhan bahu dengan bahu wanita yang tidak halal baginya.” (HR. At- Tabrani)

Dikatakan bahwa mata merupakan kuncinya hati, dan pandangan merupakan pengutus fitnah yang seringkali membawa seseorang kepada perbuatan zina. Artinya jika seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang wanita yang bukan muhrimnya, maka ditakutkan pria maupun wanita tersebut tidak dapat menjaga pandangannya, sehingga pada akhirnya syaitan akan berhasil membujuk mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang menjurus pada perzinaan. Allah SWT berfirman :

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka; sesungguhnya Allah Amat Mendalam PengetahuanNya tentang apa yang mereka kerjakan. Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya.” (QS. An-Nuur ayat 30-31) 

Jadi bisa disimpulkan bahwa pacaran yang diperbolehkan dalam agama islam adalah setelah menikah. Lalu bagaimana cara kita untuk mencegah perzinaan itu terjadi?

  1. Dengan jalan menikah, karena dengan menikah akan bisa menjaga kehormatan dan pandangan. Seseorang yang telah siap untuk menikah, bisa melakukan proses ta’aruf yang merupakan jalan yang lebih diridhoi Allah SWT dalam mengenal calon pasanagn hidup.
  2. Jika seseorang belum siap untuk menikah, ada baiknya jika ia lebih banyak berpuasa.
  3. Menjauhkan pandangan serta pendengaran kita dari segala hal yang dapat mengundang syahwat
  4. Lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, yaitu dengan memperbanyak amalan qiyamul lail (sholat malam, membaca Al- Qur’an, berdzikir, menghadiri pengajian, maupun kegiatan-kegiatan lain yang nantinya dapat menuntun kita ke jalan yang diridhoi Allah SWT.
  5. Selalu ingat akan janji Allah SWT bahwa Ia akan menghadiahkan bidadari bagi mereka yang bersabar dalam menahan perbuatan perzinaan.

Baca juga artikel cinta lainnya :

You may also like