Kisah Paling Mengharukan Tentang Ibu

Kisah paling mengharukan tentang ibu misalnya seperti, ibu yang membesarkan anaknya dengan kondisi keterbatasan fisik pernah dialami oleh warga di provinsi Maluku. Keterbatasan yang dimilikinya yaitu, lahir dengan kondisi fisik cacat yang tidak memiliki dua tangan yang sempurna. Tidak hanya di Indonesia saja, di luar negeri pun ada pula kisah seorang ibu yang memiliki keterbatasan fisik atau cacat tidak memiliki tangan dan kaki, namun dapat melahirkan dan membesarkan anaknya. Beberapa contoh tersebut menunjukkan betapa besarnya pengorbanan seorang ibu untuk anaknya, agar hidupnya lebih baik dari dirinya.

ads

Kisah tentang Ibu

Kisah tentang Ibu memang tidak ada habisnya, karena setiap hari apa yang dilakukan Ibu menjadi kisah tersendiri bagi sang anak. Ada banyak kisah tentang ibu yang ada di dunia ini, mulai dari kisah sang ibu yang memperjuangkan anaknya, ibu yang rela berkorban untuk anak, ibu yang selalu menyayangi anak, hingga ibu yang tidak pernah letih berjuang untuk anaknya.

Beberapa kisah ini menunjukkan betapa besarnya pengorbanan seorang ibu pada anaknya yang rela dirinya sakit, hanya agar anaknya tetap sehat dan melanjutkan perjalanan hidupnya yang masih panjang .Berbagai kekurangan yang dimiliki ibu tidak ingin dialami oleh anak, dan ibu bahkan rela tidak meninggalkan anaknya karena kasih sayang yang dimilikinya. Apapun kondisi ibu dan kekurangan yang dimilikinya, tetap ia adalah orang yang melahirkan dan membesarkan anaknya hingga saat ini.

Kekurangan ibu dan ayah baik dari fisik hingga materi terkadang tidak ingin diketahui oleh anaknya, agar anak fokus pada pendidikan yang ia jalani. Bagaimanapun kerasnya ibu memarahi kita, sebagai anak bila melakukan kesalahan bahkan kalaupun sampai memukul dengan tangan, tidak berarti ibu sedang benci pada kita melainkan benci terhadap kelakuan buruk yang kita lakukan. Namun sebenarnya di hati kecilnya ia tidak ingin memukul bila tidak terpaksa, karena bahaya menampar anak yaitu, sang ibu tidak ingin anaknya akan membencinya di kemudian hari akibat perlakuannya tersebut, dan hal tersebut akan memicu penyebab anak melawan orang tua.

Akan tetapi kisah mengharukan dari seorang ibu tidak hanya dari membesarkan dari keterbatasan fisiknya saja, namun juga hal lainnya.

Berikut beberapa kisah paling mengharukan tentang ibu, antara lain :

Suryati dan Anak Asuhnya

Suryati merupakan anak pertama dari dua bersaudara di keluarganya. Adiknya yang bernama Sulastri sudah tiada bersama suaminya yang meninggal dunia, karena kecelakaan serta meninggalkan satu orang anak yang hingga kini diasuh oleh Suryati. Doni nama anak yang diasuh Suryati usianya satu tahun, ia tidak mengetahui kedua orang tuanya sudah tiada. Suryati yang memang sudah dekat dengan Doni, dan ia tidak mengalami kesulitan dalam mengasuhnya. Suryati sendiri seorang janda yang ditinggal suaminya, karena suaminya menganggap suryati tidak mampu memberikannya keturunan sehingga diceraikan.

Tidak terasa dua puluh tahun pun berlalu, Doni pun kini sudah remaja dan beranjak dewasa, sehingga suryati merasa Doni sudah cukup usianya untuk mengetahui bahwa orang tua kandungnya telah tiada. Suryati pun menceritakan kondisi orang tua kandung Doni tersebut, sehingga Doni pun tak kuasa menahan air mata yang akan jatuh dari kelopak matanya. Doni yang belum terlalu dewasa pun kemudian pergi ke makam orang tuanya untuk melepas rasa rindunya, walaupun sudah tidak di dunia. Suryati yang melihat kepergian Doni pun ikhlas ditinggalkan, walaupun di hati kecilnya kecewa karena Doni sudah dianggap anaknya sendiri. Setelah Doni mengunjungi makam orang tuanya, sempat terlintas dalam pikirannya untuk pergi mengembara sendiri mencari uang dengan bekerja tanpa mempedulikan suryati ibu asuhnya, Namun sambil melangkahkan kakinya ia teringat perjuangan ibu asuhnya yang rela kehujanan dengan menutupi tubuh Doni dengan tempayan yang biasa digunakan suryati untuk berjualan kue.

Kemudian ia ingat juga akan pengorbanan Suryati menggendongnya ketika usia 7 tahun saat sedang sakit muntaber, dan membawanya ke klinik pada tengah malam. Sedangkan saat itu klinik yang buka 24 jam jaraknya cukup jauh, akan tetapi suryati tetap menggendongnya sambil berjalan menuju klinik tersebut yang jaraknya lima kilometer tanpa memikirkan dirinya lelah atau tidak. Mengingat peristiwa yang dialaminya tersebut, Doni pun tidak jadi pergi dan kembali menemui Suryati dan ditanamkan dalam dirinya bahwa Suryati pun sudah seperti ibu kandungnya.

Wati Penjual Cakue

Wati merupakan seorang ibu dari dua orang anak yang dimiliki hasil perkawinannya dengan Almarhumah Ipul Suaminya. Suaminya sudah Lama meninggalkan keluarga akibat sakit paru-paru yang di deritanya. Sebagai seorang ibu sekaligus pencari nafkah kedua anaknya yang masih duduk di sekolah dasar merupakan tanggung jawab yang cukup besar, namun tetap ia jalani tanpa mengeluh. Anak perempuan Wati yang paling besar saat ini kelas 5 SD, selalu membantu ibunya ikut mencari nafkah karena adiknya masih cukup kecil untuk dapat membantu, dan adiknya juga baru duduk di kelas 1 SD.

Wati mencari nafkah dengan membuat cakue di pagi hari dan menjualnya di siang dan sore hari. Suatu waktu ketika Wati sedang berbelanja di pasar untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat cakue, mulai dari tepung beras dan sejeninya, ketika ia menuju pulang dalam perjalanan ia bertemu dengan segerombolan pemuda yang sedang mabuk. Wati yang parasnya cukup manis ini digoda oleh empat orang pemuda tersebut namun tidak dihiraukan. Karena para pemuda tersebut dalam pengaruh alkohol tersirat dalam pikirannya untuk melecehkan dan memperkosa Wati, maka mereka pun melakukannya dengan membekap Wati ke tengah hutan jati dan pemerkosaan pun terjadi. Namun ketika diperkosa tersebut Wati memberontak, bahkan salah satu pemuda tersebut ada yang ditendang di bagian alat vitalnya. Pemuda tersebut pun emosi dan membanting kepala wati ke tanah dengan harapan pingsan.


Namun ternyata dibalik kepala Wati bukan tanah langsung melainkan ada batu yang berbentuk pipih yang akhirnya menyebabkan kepala wati pun berdarah. Pendarahan tersebut mengalir dengan deras sehingga para pemuda tersebut khawatir dan akhirnya melarikan diri. Wati pun tewas dalam peristiwa tersebut, namun arwah Wati masih penasaran dengan tetap menjadi manusia biasa. Ketika arwah Wati kembali pulang ke rumah, anaknya yang sudah menunggu dari siang hari semenjak pulang sekolah pun bertanya pada ibunya “mengapa baru pulang bu”, Wati pun menjawabnya dengan tenang “macet”. Wati pun melanjutkan membuat adonan cake dan makan untuk kedua anaknya . Dua hari berjalan aktivitas yang hampir sama, namun bedanya Wati membuat adonannya malam hari dan meminta anaknya menjualnya sesudah pulang sekolah.

Pada hari ketiga tepat di siang hari, ketika anak-anak pulang sekolah, Desi anak pertama Wati yang akan bersiap untuk menjual cakue terkejut karena rumahnya ramai tetangga bergerombol dan memasang bendera kuning. Bagaikan tersambar petir di siang bolong desi terkejut melihat jenazah ibunya sudah terbungkus kain kafan, ia pun langsung memeluk jenazah ibunya dan menangis terisak karena tidak menyangka ibunya sudah meninggal sejak 2 hari yang lalu, begitu pula dengan adiknya yang ikut menangis di sisi sebelah kanan jenazah. Desi tidak hanya menangis kehilangan karena kehilangan ibunya, namun juga terharu sampai rela membuatkan makan dan sempat membuat adonan cakue untuk dapat tetap menghidupi anak-anak yang ditinggalkannya.

Pratiwi Seorang Pelukis

Tidak seperti pelukis pada umumnya, Pratiwi menggunakan kakinya untuk melukis, namun bukan bermaksud untuk menunjukkan sisi acrobat yang dimiliki, melainkan karena ia lahir dalam keadaan cacat tanpa memiliki kedua tangan.

Karena bakat melukis yang telah dimiliki, ia mampu meluluhkan seorang lelaki yang saat ini sudah menjadi suaminya, dan telah dikaruniai seorang anak lelaki berusia enam bulan. Dengan kekurangan yang dimiliki, Pratiwi tetap dapat melakukan hampir semua tugas yang dilakukan sebagai seorang istri maupun ibu untuk anaknya. Mulai dari memasak, menyusui anak, hingga membersihkan rumah. Suatu ketika suaminya tertimpa musibah dalam pekerjaannya di proyek, sehingga mengalami cacat dan tidak mampu berjalan seperti normal, sehingga hanya terbaring saja dirumah.

Melihat keadaan suami yang sudah tidak mencari nafkah lagi, maka cara yang di lakukan untuk dapat bekerja keras, pantang menyerah dan ulet, adalah  Pratiwi mulai mengandalkan bakat melukisnya untuk mendapatkan pemasukan Jadwal hariannya pun berubah, mulai dari mengurus anak dan rumah tangga seharian menjadi mengurus anak dan suami serta mendapatkan pemasukan dari hasil lukisannya. Setiap hari ia mampu menyelesaikan satu hingga dua lukisan buatan sendiri untuk pesanan. Umumnya pesanan yang minta dilukiskan adalah pasangan muda maupun yang sudah senja yang ingin diabadikan fotonya dalam bentuk lukisan, sehingga cukup memberikan fotonya pada pratiwi.

Terkadang ia sambil mengajak anaknya untuk melukis di alun-alun kota agar dapat tetap menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Suatu ketika hujan deras dan ia hanya membawa satu payung, dan hanya bisa memayungi dirinya dan anak dipangkuannya, sehingga sebagian lukisannya yang tidak sempat ia tutupi plastic pun harus direlakannya terkena hujan.

Namun karena keterbatasan fisiknya, ia pun hanya mampu menjalankannya dalam satu bulan, dan bulan kedua ia jatuh sakit. Akibat sakit tipes yang di deritaya ia tidak mampu mengerjakan tugasnya sebagai istri dan hanya dapat menyusui anaknya saja.


Karena kekurangan biaya, ia hanya dirawat di rumah. Hingga tanpa disadari sang suami, bahwa istrinya tertidur di tempat tidurnya sambil merangkul anaknya di tempat tidur namun tidak bangun kembali. Karena sakitnya sangat parah dan mengalami komplikasi dengan sakit maag, sehingga tidak sempat terselamatkan. Pratiwi meninggal dunia sambil memeluk anaknya ditempat tidur yang seolah-olah tidak rela di tinggalkannya.

Dengan membaca kisah paling mengharukan tentang ibu tersebut, bisa memberikan tips cerita yang baik untuk anak, agar dapat berintrospeksi diri dengan apa yang sudah dilakukan pada ibu yang sudah membesarkannya. Jika hingga saat ini belum ada yang dapat dilakukan, maka tunjukkanlah dengan memberinya perhatian, dan jika memang mampu maka penuhi kebutuhan yang dibutuhkannya. Meskipun hal tersebut sudah di lakukan untuk ibu, tetap belum mampu membalas kebaikan dan pengorbanan yang telah ibu lakukan pada anak. Bila ibu sudah berusia lanjut jangan dibiarkan untuk tinggal di panti jompo, walaupun Anda mungkin mampu membiayai dan mungkin karena kesibukan yang dijalani, alangkah baiknya tetap berikan perhatian Anda sebagai anak dengan tetap mengurusnya di rumah. Oleh karena itu, sesibuk apapun pekerjaan yang dijalankan, tetap tujukan bahwa Anda pun tetap mampu memberikan perhatian dan sayang Anda sebagai anak kepada ibu.

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , ,
Post Date: Sunday 01st, May 2016 / 03:42 Oleh :
Kategori : Kisah Kehidupan