Cerita Anak yang Durhaka pada Ibunya

Cerita anak yang durhaka pada ibunya sering kali kita temui pada kisah zaman dahulu. Tetapi cerita tersebut bukan hanya kisah belaka saja, namun juga terjadi di kehidupan nyata, dan hingga saat ini masih ada seorang anak yang durhaka kepada ibunya, Anak yang durhaka pada ibunya merupakan sebuah sikap yang tidak terpuji. Seharusnya sebagai seorang anak, wajib mematuhi apa yang dikatakan oleh sang Ibu, dan kalau perlu harus menyayangi ibunya melebihi apapun. Beberapa perilaku sikap durhaka kepada ibu, seperti membentak, berbicara dengan nada keras, memperlakukan ibu seperti budak, dan sikap yang tidak mengakui sebagai ibu kandungnya.

Seorang ibu hanya ingin anaknya menjadi seseorang yang baik dan santun kepada orangtua. Ibu tidak meminta apa-apa dari anaknya, bahkan Ibu tidak meminta balasan atau imbalan saat apa yang dilakukan oleh Ibu untuk anaknya. Kebaikan seorang ibu terkadang disalah artikan oleh anak, sehingga banyak anak yang membentak dan berperilaku kasar kepada ibunya.

Terkadang seorang anak selalu ragu kepada orangtua, misalnya ragu apakah orangtuanya kandung atau ia anak orang lain. anak menjadi ragu karena orangtua yang terlalu protektif. Ciri-ciri orang tua yang over protektif ialah, selalu membatasi keinginan anak, dan melarang anak pergi kemanapun. sehingga anak menjadi tidak betah. Ada salah satu cara mengetahui orang tua kandung atau bukan, yakni dengan merasakan kasih sayang yang di berikan oleh orang tua.  Namun anak biasanya tidak bisa merasakan hal ini, sebab ia hanya memikirkan emosinya sendiri.

Cerita anak yang durhaka pada ibunya di di Indonesia cukup banyak yang populer, dan cerita tersebut dapat dijadikan pelajaran hidup yang berharga untuk masyarakat lainnya. agar anak-anak dapat mengerti tentang pelajaran bagi yang durhaka kepada ibunya.

Dari beberapa cerita anak yang durhaka, inilah diantara cerita anak yang durhaka pada ibunya :

Malin Kundang

Kisah cerita ini cukup populer di kalangan masyarakat. Cerita malin kundang diangkat dari anak durhaka yang berasal dari Minang, Sumatera Barat. Pada awal kisahnya, ada seorang anak yang bernama malin kundang dan dibesarkan dari keluarga yangtidak mampu. Pada saat masih anak-anak, Malin merupakan anak yang rajin dan pekerja keras, ia juga selalu membantu ibunya bekerja di ladang. Ibunya pun selalu berdoa agar anaknya bisa menjadi seseorang yang kaya dan sukses, agar kehidupannya dapat lebih baik lagi dari kehidupan saat ini. Suatu ketika doa sang ibu ini dikabulkan Tuhan, ketika malin kundang berusia remaja, ia diajak oleh seorang yang kaya untuk bekerja dan membantu bisnis hingga ke luar kota. Sang ibu dengan rasa bangga harus merelakan anaknya pergi dan mendapatkan pengalaman baru dalam hidupnya.

Akhirnya ibu Malin tinggal sendiri, karena ayah dari malin kundang sudah meninggal. Bertahun-tahun lamanya malin kundang berlayar, hingga suatu hari ia pergi ke daerah tempat asalnya untuk melanjutkan bisnis ayah mertuanya, yang merupakan seseorang saat awalnya mengajak Malin bekerja. Ternyata selama ia melakukan perjalanan bisnisnya, anak perempuan satu-satunya dari saudagar kaya tersebut jatuh hati pada malin kundang, lalu mereka menikah.

Ketika kembali ke tempat asal Malin, ia bertemu dengan ibu Malin yang sudah tua renta. Malin kundang saat ini sudah kaya, dan ia gengsi serta malu melihat ibunya yang miskin dan sudah tua. Hingga terucap dari mulut Malin, “minggir kau pengemis”. Sang ibu pun berusaha meyakinkan Malin, namun malin kundang tetap berkata “ saya tidak pernah punya ibu seorang pengemis”. Sungguh kecewa hati ibu Malin melihat anak yang dibesarkannya dan sudah sukses tidak menganggapnya ibu kandungnya. Seketika itu juga sang ibu berdoa dan memohon ampun pada Tuhan, lalu sang ibu mengutuk anaknya tersebut menjadi batu, dan Tuhan pun mewujudkannya. Akhirnya malin kundang menjadi batu, hingga saat ini batu tersebut bisa kita temui dalam posisi sujud.

Sangkuriang

Sangkuriang merupakan kisah anak yang durhaka terhadap ibunya dari provinsi Jawa Barat. Zaman dahulu, hidup Sangkuriang di besarkan dalam keluarga yang serba kekurangan, namun ia bertekad tidak ingin hidupnya terus menerus seperti ini. Sehingga suatu saat ia diberi kesempatan oleh Tuhan menjadi saudagar kaya setelah berlayar cukup lama hingga bertahun-tahun. Ibu Sangkuriang tidak merestui jika anaknya kerja berlayar, namun Sangkuriang nekat dan tetap pergi.

Walaupun sebenarnya keinginan berlayarnya didasari kekecewaan terhadap ibunya bernama Dayang Sumbi, namun Sangkuriang berhasil membuktikan bahwa dirinya kini bisa sukses. Dayang Sumbi memukul kepala Sangkuriang dengan alat penumbuk padi, karena telah membunuh ayahnya. Setelah Sangkuriang sukses, ia pun kembali ke kampung halamannya, dan melihat sosok wanita cantik lalu jatuh hati kepada wanita tersebut. Siapa yang menyangka bila wanita yang dimaksud adalah ibu kandungnya sendiri, namun ia tidak mengetahuinya.

Sang ibu dayang sumbi yang melihat sangkuriang sukses dan ingin menikahinya pun terkejut ketika melihat dikepalanya terdapat bekas luka, dimana ia pernah memukul anaknya ketika kecil akibat melakukan perbuatan membunuh ayahnya sendiri yang seorang dewa sedang menjelma menjadi seekor anjing. Menyadari ternyata anaknya, maka dayang sumbi pun memberikan syarat pada sangkuriang, agar membuatkannya perahu layar berukuran besar yang harus dibuatnya dalam waktu satu malam dan harus sudah selesai sebelum ayam berkokok dan fajar tiba. Sangkuriang pun menyanggupi syarat yang diberikan dan dibuatlah perahu tersebut. Melihat ambisi anaknya yang sangat ingin menikahinya, dayang sumbi pun tidak mau kalah.

Pada tengah malam ia membawa lilin ke kandang ayam miliknya hingga membuat ayam yang dimilikinya pun berkokok. Mendengar ayam berkokok maka Sangkuring terkejut, ditambah dengan kehadiran Dayang Sumbi kepadanya dengan mengatakan “kamu terlambat karena ayam sudah berkokok, dan tidak dapat menyelesaikan pembuatan perahu tersebut, maka kamu tidak dapat menikahiku”.

Sangkuriang yang terkejut mendengar ucapan tersebut pun akhirnya menendang perahunya yang belum rampung sepenuhnya, sehingga perahu tersebut tertelungkup dan menjadi gunung, yang dikenal dengan nama Tangkuban Perahu. Kisah tersebut menunjukkan bahwa bila durhaka pada orang tua, maka keinginan apapun yang diharapkan tidak akan pernah terwujud.

Andi Anak dari Ibu Cacat

Andi merupakan anak yang dibesarkan oleh keluarga yang sederhana, uangnya hanya cukup untuk makan. Ayah Andi seorang supir dan ibunya bekerja sebagai buruh cuci ini selalu mengupayakan agar anaknya hidup tidak kekurangan. Andi pun menunjukkan bahwa usaha orang tuanya tidak sisa-sia membesarkannya, karena ia pintar di sekolah dan selalu mendapatkan peringkat terbaik.

Suatu ketika Andi dan ayahnya pergi ke pasar mencari alat tulis dengan mobil majikan Ayahnya. Namun dalam perjalanan mereka mengalami kecelakaan hingga menyebabkan kendaraan yang dikendarai rusak berat, Namun Andi selamat tetapi ayahnya meniggal dunia.

Sang ibu yang mendengar suami dan anaknya kecelakaan tersebut segera mengunjungi rumah sakit tempat anaknya dirawat, dan seketika sampai di tempat tujuan dikejutkan dengan meninggalnya suami, namun anaknya selamat tetapi mata sebelah kanannya mengalami kebutaan. Sang ibu yang sedih mendengar anaknya buta sebelah mata dan tidak ingin melihat kondisi anaknya cacat, kemudian mengajukan diri pada dokter di rumah sakit untuk mendonorkan mata sebelah kanannya, agar dapat diberikan pada anaknya tersebut. Inilah keuntungan dan kerugian anak tunggal, selalu di sayang orang tua.

Dokter yang terharu melihat pengorbanan sang ibu pun membantu proses operasi dan membuat mata sebelah kanan Andi dapat melihat kembali. Dua jam proses operasi yang dilalui oleh sang ibu dan Anaknya melalui pembiusan. Setelah sang ibu sadar dari pengaruh obat bius tersebut, ia menangis terharu serta bangga melihat anaknya yang tadinya cacat kini bisa melihat kembali.

Andi dapat melihat kembali dan bisa beraktifitas sekolah seperti biasa, hingga ia menjadi murid berprestasi dan mendapat beasiswa ke luar negeri. Sukses pun ia raih hingga mendapatkan pasangan hidup dan membina rumah tangga. Suatu hari Andi mendapat undangan reuni SMU di dan ingin menghadirinya, namun ia tidak ingin ibunya mengetahui bahwa dirinya ke Indonesia untuk reuni SMU, sebab akan membuatnya malu bila diketahui teman-temannya bahwa ibunya seorang wanita tua yang cacat buta sebelah mata. Reuni SMU pun berlangsung dan Andi menghadirinya, setelah acara tersebut selesai entah kenapa ingin sekali ia melihat ke rumah ibunya. Setelah sampai di rumah, ia melihat kondisi rumah kosong seperti sudah lama ditinggalkan. Perabot yang tidak tertata rapih dan sebagainya.

Kemudian datang seorang tetangga dan mengatakan pada Andi bahwa ibunya sudah meninggal satu bulan lalu dan sempat menuliskan surat untuk dititipkan kepada Andi. Melihat secarik kertas surat yang sudah kumal tersebut dan membaca isi suratnya kemudian Andi pun terkejut, karena kalimat yang tertulis mengatakan bahwa “ibu bangga melihatmu sukses dan bisa melihat dunia dengan sempurna, sehingga tidak membuatmu malu. Karena satu mata ibu yang diberikan padamu, membuatmu tampil sempurna. Walaupun sebenarnya ibu kecewa karena kamu tidak mengunjugi ibu sudah sekian lama, mungkin kamu malu bertemu ibu yang cacat ini.

Namun ibu sudah memafkanmu nak.” Andi pun seketika menangis dan menyesali sikapnya yang dipenuhi rasa sombong dan gengsi, hingga tidak menganggap ibunya, bahkan ia malu dengan ibunya yang cacat. Ternyata cacat yang dialami ibunya adalah demi kesempurnaan Anaknya sendiri. Sambil mengendarai mobil menuju bandara karena ingin pulang keluar negeri menemui sang istri, Andi tidak konsentrasi karena sambil meratapi kepergian ibunya karena ia tidak meminta maaf secara langsung. Tiba-tiba ia tidak sadar ada tikungan tajam dan tidak sempat membelokkan setirnya sehingga ia pun masuk ke jurang dan meninggal dunia karena kecelakaan tersebut.

Agar anak tidak durhaka kepada orang tua terutama ibu, sebaiknya ditanamkan pendidikan agama sejak kecil serta nilai-nilai kemanusiaan yang baik. Sehingga ketika anak remaja dan dewasa, ia akan ingat akan nilai-nilai kehidupan yang pernah diberikan orang tua, dan akan berbakti serta sayang kepada ibu dan ayah.

Penyebab Anak Melawan Orang Tua

Beberapa penyebab anak melawan orang tua, ialah :

  • pengaruh orang lain atau lingkungan
  • pengaruh kondisi dan ekonomi
  • kurangnya kasih sayang orang tua kepada anak.

Tanpa kekuatan ibu mengurus anak dan semangat ibu membesarkan anak, mungkin kita tidak akan sampai sebesar saat ini. Berbagai tantangan kehidupan mulai dari biaya hidup hingga penyakit yang mengancam keselamatan kita sebagai anak, orang tua pun rela memberikan apapun yang terbaik untuk anaknya tersebut. Bahkan bila kita sudah dewasa dan sukses sekalipun, belum tentu dapat menggantikan semua yang telah diberikan ibu pada anaknya, baik dari sisi materi hingga perhatian dan kasih sayang.

Dari beberapa cerita anak yang durhaka pada ibunya, dapat diambil kesimpulan bahwa bila ibu tidak merestui setiap langkah dan jalan hidup yang diambil anaknya, maka anak tidak akan bisa menjalani apa yang diinginkan. Bersikap baiklah terhadap orang tua khususnya ibu, yang telah melahirkan dan berjuang demi anak.