Home » Cinta » Perceraian » 2 Dampak Perceraian Bagi Anak Balita Berdasarkan Usia

2 Dampak Perceraian Bagi Anak Balita Berdasarkan Usia

by Harni Mutia Sara S.Si

Dampak perceraian bagi anak balita menurut Anthony E Wolf dibagi menjadi dua rentang masa yang memiliki respon berbeda yakni 0-2 tahun dan 2-5 tahun. Banyak yang berpendapat bahwa dampak perceraian yang terbaik adalah saat anak berusia balita. Pada usia ini anak belum mampu memahami secara utuh mengenai apa yang terjadi pada orang tuanya. Namun faktanya, tidak ada usia terbaik untuk anak dalam menghadapi sebuah akibat perceraian. Setiap usia memiliki dampak psikologis yang berbeda. Orang tua perlu memikirkan perkembangan mental anak. Jangan sampai egois hanya memikirkan jalan terbaik untuk diri sendiri. Berikut adalah cara memahami dampak perbedaan  menurut Anthony E Wolf.

1. Anak Usia 0 Hingga 2 Tahun

Dampak perceraian bagi anak balita di usia ini tidak terlalu dimengerti secara jelas. Masa ini adalah masa awal pertumbuhan anak. Pemikiran anak belum mampu memahami mengenai apa itu perceraian. Dampak perceraian akan mulai terasa saat beranjak tumbuh besar. Cara mendidik anak korban perceraian ada yang dibesarkan dalam rumah berbeda, ada anak yang hanya memiliki orang tua tidak lengkap.

Psikologis pada anak usia dengan rentang demikian akan mengalami pembentukan dimana mulai terjalinnya sebuah kedekatan yang kuat. Jika anak hanya tinggal dengan salah satu orang tuanya maka dengan orang tua tersebut kedekatan yang terjalin lebih kuat. Anak kurang dari dua tahun membutuhkan ikatan kuat dengan kasih sayang dari orang – orang terdekat untuk membantu mereka tumbuh dengan baik. Kedekatan tersebut akan menjadi sebuah landasan untuk merasakan kesejahteraan di dalam diri. Rasa istimewa dan dicintai oleh orang – orang sekitar. Hal ini sangat baik untuk masa pertumbuhan dan perkembangannya.

Dampak perceraian bagi anak balita adalah dimungkinkan untuk kehilangan kasih sayang yang utuh dari orang tuanya. Jika hak asuh anak dalam perceraian jatuh pada satu orang tua yang berperan di dalam memberikan kasih sayang mungkin perbedaan mental pada masa pertumbuhan tidak akan tampak begitu signifikan. Banyak anak yang juga pada akhirnya kehilangan peran dari kedua orang tuanya seperti misalnya tinggal bersama nenek, kakek, dan kerabat lain. Hal ini akan membuat dampak signifikan saat anak tumbuh dewasa. Pada akhirnya orang tua akan kehilangan ikatan atau kontak bersama anak. Orang tua seperti orang asing yang sulit untuk diterima dalam dirinya.

2. Anak Usia 2 Hingga 5 Tahun

Dampak perceraian bagi anak balita akan lebih terasa karena anak mulai mengalami perubahan akibat pertumbuhan. Pada anak prasekolah mereka lebih menyadari dan mampu menyimpan memori yang terjadi. Anak usia lebih dari dua tahun memiliki kemampuan untuk merasakan rindu dan kehilangan. Jika perceraian terjadi pada usia ini orang tua harus lebih hati – hati dan sebaiknya menekan ego masing – masing. Terkadang dia akan bertanya saat situasi rumah menjadi berbeda, misalnya saat salah seorang orang tua pergi. Dampak perceraian teerhadap anak adalah mereka akan merasa kehilangan dan takut untuk kehilangan kembali sosok yang kini ada bersama mereka. Anak usia ini sudah mampu berekpsresi tentang apa yang dirasakannya.

Ekspresi pada usia ini akan memperlihatkan kejujuran apa yang sesungguhnya dia rasakan. Kepercayaan diri anak dapat menurun saat kehilangan salah satu sosok di dalam hidupnya. Anak akan cenderung menjadi pendiam karena mereka kehilangan semangat untuk manja dan senantiasa mengungkapkan apa yang mereka inginkan. Anak seperti dipaksa untuk mendewasa memikirkan masalah yang terjadi pada orang tuanya. Mereka butuh dukungan besar untuk kembali mendukung kepercayaan diri mereka dan meredam ketakutan yang mereka alami. Orang tua harus mengetahui cara mengatasi perceraian di awal perkawinan. 

You may also like